Selamat Datang di Situs Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Pucanglaban Kabupaten Tulungagung Provinsi Jawa Timur, Email : bpp.pucanglaban@gmail.com, website : http://bpppucanglaban.blogspot.com - Terimakasih Atas Kunjungan Anda

Selalu Peduli Demi Kesejahteraan Masyarakat Tani

Minggu, 16 Desember 2012

Rencana Kegiatan Evaluasi Hasil Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian


I.       PENDAHULUAN
Usaha pemerintah dalam program intensifikasi pertanian telah berhasil meningkatkan produksi pangan khususnya beras. Namun melimpahnya produksi seringkali diikuti permasalahan mengenai pemasarannya. Demikian halnya dengan produk beras, permasalahan yang sering muncul yakni mengenai mutunya.
Fokus terhadap mutu gabah dan beras selama ini belum disadari sepenuhnya oleh petani karena selama ini petani selalu diarahkan pada usaha-usaha peningkatan produksi, sedangkan usaha-usaha perbaikan pasca panen belum ditangani sebagaimana mestinya.
Penerapan teknis pasca panen yang kurang tepat, mulai saat padi dipanen sampai siap digiling melalui berbagai tahap kegiatan akan mengakibatkan kehilangan kuantitatif (susut bobot) dan kualitatif (penurunan mutu). Dari hasil survey diperkirakan angka kehilangan bobot berkisar antara 19-21%. Kehilangan tersebut dapat terjadi pada jalur produsen, pedagang pengumpul, pengolah, pedagang grosir dan pengecer sampai konsumen.
Oleh sebab itu penanganan pasca panen perlu mendapat perhatian dari semua pihak khususnya petani agar produksi dapat meningkat dan kesejahteraan meningkat pula.

II.    USAHA PERBAIKAN PENANGANAN PASCA PANEN DI TINGKAT PETANI
A.    PANEN
Penentuan saat panen didasarkan pada :
-          85% malai menguning, sebagian daun bendera telah mengering
-          Kerontokan gabah 25-30% diukur dengan cara meremas malai dengan tangan
-          Kadar air 22-25%
-          Umur optimal 30-35% hari setelah berbunga
Alat panen yang digunakan adalah sabit bergerigi, yang dipanen dengan cara potong bawah. Hasil panen diletakkan di atas tikar/ pakai alas lainnya, kemudian dibawa ke tempat perontokan dengan menggunakan wadah.
B.     PERONTOKAN
Sesudah panen sebaiknya segera dilakukan perontokan karena dengan terlambatnya perontokan mengakibatkan terjadinya butir kuning. Perontokan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1.      Menggunakan pedal thresher
Alat ini dapat memperbesar kapasitas sekitar dua kali (132,6 kg/jam) apabila dibandingkan dengan cara banting. Selain itu alat ini juga mudah dibuat dan mudah dibawa.
2.      Menggunakan mesin perontok
Alat ini dapat meningkatkan kapasitas dalam perontokan sampai sebesar 800-900 kg gabah/jam.
3.      Menghempas atau banting
Perontokan dengan cara menghempas sebaiknya dilakukan dalam dua tahap yaitu hempasan tahap ke satu (terdiri dari hempasan pertama dan ke dua), dilanjutkan dengan hempasan ke dua (terdiri dari hempasan ke dua dan selanjutnya). Hempasan ke satu dan ke dua dilakukan di tempat yang berlainan. Perlakuan dilakukan dengan tujuan untuk memisahkan butir hijau. Perontokan dengan cara dihempas ini dilakukan pada tempat yang beralas lebar dan berkelambu/ berdinding, terutama pada bagian muka alat atau orang.
C.    PEMBERSIHAN
Pembersihan dilakukan segera setelah perontokan dengan menggunakan ayakan bambu, tampi atau winower.
D.    PENGERINGAN
Pengeringan dilakukan segera setelah perontokan sampai mencapai kadar air 14%, untuk menghindari penurunan mutu. Apabila pada musim hujan, maka pengeringan dapat menggunakan alat pengering sederhana sampai mencapai kadar air 18%. Pengeringan selanjutnya sampai mencapai kadar air 14% menunggu cuaca baik.
Pengeringan dengan sinar matahari dilakukan di atas alas dengan ketebalan 5-7 cm dan setiap 1-2 jam gabah tersebut dibolak-balik. Sebaiknya sesudah pengeringan gabah dibersihkan lagi untuk memisahkan kotoran yang belum terpisahkan pada saat pembersihan sesudah perontokan.
E.     PENYIMPANAN
Gabah yang disimpan harus bersih dan kering (kadar air 14%) bebas hama, kadar hampa maksimal 3%. Gudang penyimpanan harus bebas hama, selalu bersih, tidak lembab dan tidak bocor.
F.     PENGGILINGAN
Penggilingan sebaiknya menggunakan alat yang sudah dilengkapi dengan mesin pengupas sekam Roll Karat dan lebih baik lagi kalau dilengkapi dengan alat separator gabah.
G.    PEMASARAN
Pemasaran hasil sebaiknya tidak dilakukan secara perorangan/ sendiri tetapi sebaiknya dilakukan secara berkelompok sehingga efisiensi pemasaran serta biaya angkutan yang dikeluarkan dapat ditekan. Pemasaran sedapat mungkin melalui koperasi tani atau melalui KUD setempat.

III.  PENUTUP
Penerapan pasca panen yang baik akan berpengaruh pada produksi yang baik dalam hal kuantitas, selain itu juga kualitas gabah yang diperoleh benar-benar terjamin mutunya. Dengan demikian kesejahteraan petani beserta keluarganya dapat meningkat sesuai dengan harapan bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar